KONSEP DIRI
A.
PENGERTIAN
Banyak
pengertian yang diberikan oleh para ahli mengenai konsep diri. Fitts (dalam
Agustiani, 2006), mengemukakan bahwa konsep diri merupakan kerangka acuan (frame
of reference) dalam berinteraksi dengan lingkungan. Agustiani (2006)
menjelaskan bahwa konsep diri merupakan gambaran yang dimiliki seseorang
mengenai dirinya, yang dibentuk melalui pengalaman-pengalaman yang dia peroleh
dari interaksi dengan lingkungan. Penjelasan tersebut sejalan dengan pendapat
Stuart dan Sundeen(dalam Keliat, 1992), bahwa konsep diri adalah semua ide,
pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan
mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain. Hal ini temasuk persepsi
individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan
lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan objek, tujuan
serta keinginannya. Dengan kata lain, konsep diri didefenisikan sebagai
pandangan pribadi yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri (Calhoun dan
Acocella, 1990).
Berzonsky (1981), mengemukakan bahwa konsep diri
adalah gambaran mengenai diri seseorang, baik persepsi terhadap diri nyatanya
maupun penilaian berdasarkan harapannya yang merupakan gabungan dari
aspek-aspek fisik, psikis, sosial, dan moral. Sejalan dengan defenisi tersebut
Kobal dan Musek (2002) mendefenisikan konsep diri sebagai suatu kesatuan
psikologis yang meliputi perasaan-perasaan, evaluasi-evaluasi, dan sikap-sikap
kita yang dapat mendeskripsikan diri kita. Demikian juga Paik dan Micheal
(2002) menjelaskan konsep diri sebagai sekumpulan keyakinan-keyakinan yang kita
miliki mengenai diri kita sendiri dan hubungannya dengan perilaku dalam
situasi-situasi tertentu.
Konsep diri juga dapat diartikan sebagai penilaian
keseluruhan terhadap penampilan, perilaku, perasaan, sikap-sikap, kemampuan
serta sumber daya yang dimiliki seseorang (Labenne dan Greene, 1969). Konsep
diri sebagai suatu penilaian terhadap diri juga dijelaskan dalam defenisi konsep
diri yang dikemukakan oleh Partosuwido, dkk (1985) yaitu bahwa konsep diri
adalah cara bagaimana individu menilai diri sendiri, bagaimana penerimaannya
terhadap diri sendiri sebagaimana yang dirasakan, diyakini, dan dilakukan, baik
ditinjau dari segi fisik, moral, keluarga, personal, dan sosial.
Pengertian konsep diri yang digunakan dalam
penelitian adalah defenisi konsep diri yang dikemukakan oleh Calhoun dan
Acocella (1990), yaitu bahwa konsep diri adalah pandangan pribadi yang dimiliki
seseorang tentang dirinya sendiri.
B. KOMPONEN ATAU
BAGIAN DARI KONSEP DIRI
Konsep diri terbagi menjadi beberapa
bagian. Pembagian Konsep diri tersebut di kemukakan oleh Stuart and Sundeen (
1991 ), yang terdiri dari :
1. Gambaran diri ( Body Image )
Gambaran diri adalah sikap seseorang
terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan
perasaan tentang ukuran, bentuk, fungsi penampilan dan potensi tubuh saat ini
dan masa lalu yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan pengalaman baru
setiap individu (Stuart and Sundeen , 1991). Sejak lahir individu
mengeksplorasi bagian tubuhnya, menerima stimulus dari orang lain, kemudian
mulai memanipulasi lingkungan dan mulai sadar dirinya terpisah dari lingkungan
( Keliat ,1992 ).
Gambaran diri ( Body Image )
berhubungan dengan kepribadian. Cara individu memandang dirinya mempunyai
dampak yang penting pada aspek psikologinya. Pandangan yang realistis terhadap
dirinya manarima dan mengukur bagian tubuhnya akan lebih rasa aman, sehingga
terhindar dari rasa cemas dan meningkatkan harga diri (Keliat, 1992). Individu
yang stabil, realistis dan konsisten terhadap gambaran dirinya akan
memperlihatkan kemampuan yang mantap terhadap realisasi yang akan memacu sukses
dalam kehidupan.
Banyak Faktor dapat yang mempengaruhi
gambaran diri seseorang, seperti, munculnya Stresor yang dapat menggangu
integrasi gambaran diri. Stresor-stresor tersebut dapat berupa :
v Operasi.
Seperti : mastektomi, amputsi, luka
operasi yang semuanya mengubah gambaran diri. Demikian pula tindakan koreksi
seperti operasi plastik, protesa dan lain –lain.
v Kegagalan fungsi tubuh.
Seperti : hemiplegi, buta, tuli
dapat mengakibatkan depersonlisasi yaitu tadak mengkui atau asing dengan bagian
tubuh, sering berkaitan dengan fungsi saraf.
v Paham yang berkaitan dengan bentuk
dan fungsi tubuh
Seperti : sering terjadi pada
seseorang yang mengalami gangguan jiwa, seseorang tersebut mempersiapkan
penampilan dan pergerakan tubuh sangat berbeda dengan kenyataan.
v Tergantung pada mesin.
Seperti : seseorang yang sedang
menjalani intensif care yang memandang imobilisasi sebagai tantangan, akibatnya
sukar mendapatkan informasi umpan balik engan penggunaan lntensif care
dipandang sebagai gangguan.
v Perubahan tubuh berkaitan
Hal ini berkaitan dengan tumbuh kembang
dimana seseorang akan merasakan perubahan pada dirinya seiring dengan
bertambahnya usia. Tidak jarang seseorang menanggapinya dengan respon negatif
dan positif. Ketidakpuasan juga dirasakan seseorang jika didapati perubahan
tubuh yang tidak ideal.
v Umpan balik interpersonal yang
negative
Umpan balik ini adanya tanggapan yang tidak baik berupa
celaan, makian sehingga dapat membuat seseorang menarik diri.
v Standard sosial budaya.
Hal ini
berkaitan dengan kultur sosial budaya yang berbeda-setiap pada setiap orang dan
keterbatasannya serta keterbelakangan dari budaya tersebut menyebabkan pengaruh
pada gambaran diri individu, seperti adanya perasaan minder.
Beberapa
gangguan pada gambaran diri tersebut dapat menunjukan tanda dan gejala, seperti
:
·
Syok
Psikologis.
Syok
Psikologis merupakan reaksi emosional terhadap dampak perubahan dan dapat
terjadi pada saat pertama tindakan.syok psikologis digunakan sebagai reaksi
terhadap ansietas. Informasi yang terlalu banyak dan kenyataan perubahan tubuh
membuat seseorang menggunakan mekanisme pertahanan diri seperti mengingkari,
menolak dan proyeksi untuk mempertahankan keseimbangan diri.
·
Menarik
diri.
Seseorang
menjadi sadar akan kenyataan, ingin lari dari kenyataan , tetapi karena tidak
mungkin maka seseorang lari atau menghindar secara emosional. Seseorang menjadi
pasif, tergantung , tidak ada motivasi dan keinginan untuk berperan dalam
perawatannya.
·
Penerimaan
atau pengakuan secara bertahap.
Setelah
seseorang sadar akan kenyataan maka respon kehilangan atau berduka muncul.
Setelah fase ini seseorang mulai melakukan reintegrasi dengan gambaran diri
yang baru.
Tanda
dan gejala dari gangguan gambaran diri di atas adalah proses yang adaptif, jika
tampak gejala dan tanda-tanda berikut secara menetap maka respon seseorang
dianggap maladaptif sehingga terjadi gangguan gambaran diri yaitu :
÷
Menolak
untuk melihat dan menyentuh bagian yang berubah.
÷
Tidak
dapat menerima perubahan struktur dan fungsi tubuh.
÷
Mengurangi
kontak sosial sehingga terjadi menarik diri.
÷
Perasaan
atau pandangan negatif terhadap tubuh.
÷
Preokupasi
dengan bagian tubuh atau fungsi tubuh yang hilang.
÷
Mengungkapkan
keputusasaan.
÷
Mengungkapkan
ketakutan ditolak.
÷
Depersonalisasi.
÷
Menolak
penjelasan tentang perubahan tubuh.
2. Ideal Diri
Ideal diri
adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku berdasarkan
standart, aspirasi, tujuan atau penilaian personal tertentu (Stuart and Sundeen
,1991). Standart dapat berhubungan dengan tipe orang yang akan diinginkan atau
sejumlah aspirasi, cita-cita, nilai- nilai yang ingin di capai . Ideal diri
akan mewujudkan cita-cita, nilai-nilai yang ingin dicapai. Ideal diri akan
mewujudkan cita–cita dan harapan pribadi berdasarkan norma sosial (keluarga budaya)
dan kepada siapa ingin dilakukan.
Ideal diri
mulai berkembang pada masa kanak–kanak yang di pengaruhi orang yang penting
pada dirinya yang memberikan keuntungan dan harapan pada masa remaja ideal diri
akan di bentuk melalui proses identifikasi pada orang tua, guru dan teman.
Menurut
Ana Keliat ( 1998 ) ada beberapa faktor yang mempengaruhi ideal diri yaitu :
·
Kecenderungan
individu menetapkan ideal pada batas kemampuannya.
·
Faktor
budaya akan mempengaruhi individu menetapkan ideal diri.
·
Ambisi
dan keinginan untuk melebihi dan berhasil, kebutuhan yang realistis, keinginan
untuk mengklaim diri dari kegagalan, perasan cemas dan rendah diri.
·
Kebutuhan
yang realistis.
·
Keinginan
untuk menghindari kegagalan .
·
Perasaan
cemas dan rendah diri.
Agar individu
mampu berfungsi dan mendemonstrasikan kecocokan antara persepsi diri dan ideal
diri. Ideal diri ini hendaknya ditetapkan tidak terlalu tinggi, tetapi masih
lebih tinggi dari kemampuan agar tetap menjadi pendorong dan masih dapat
dicapai (Keliat, 1992 ).
3. Harga Diri
Harga diri
adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa
seberapa jauh prilaku memenuhi ideal diri (Stuart and Sundeen, 1991). Frekuensi
pencapaian tujuan akan menghasilkan harga diri yang rendah atau harga diri yang
tinggi. Jika individu sering gagal , maka cenderung harga diri rendah. Harga
diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Aspek utama adalah di cintai
dan menerima penghargaan dari orang lain (Keliat, 1992). Biasanya harga diri
sangat rentan terganggu pada saat remaja dan usia lanjut. Dari hasil riset
ditemukan bahwa masalah kesehatan fisik mengakibatkan harga diri rendah.
Harga diri
tinggi terkait dengam ansietas yang rendah, efektif dalam kelompok dan diterima
oleh orang lain. Sedangkan harga diri rendah terkait dengan hubungan
interpersonal yang buruk dan resiko terjadi depresi dan skizofrenia. Gangguan
harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri
termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri. Harga diri rendah dapat terjadi
secara situasional ( trauma ) atau kronis ( negatif self evaluasi yang telah
berlangsung lama ). Dan dapat di ekspresikan secara langsung atau tidak
langsung (nyata atau tidak nyata).
Menurut
beberapa ahli dikemukakan faktor-Fator yang mempengaruhi gangguan harga diri,
seperti :
Ø Perkembangan individu.
Faktor
predisposisi dapat dimulai sejak masih bayi, seperti penolakan orang tua
menyebabkan anak merasa tidak dicintai dan mengkibatkan anak gagal mencintai
dirinya dan akan gagal untuk mencintai orang lain. Pada saat anak berkembang
lebih besar, anak mengalami kurangnya pengakuan dan pujian dari orang tua dan
orang yang dekat atau penting baginya. Ia merasa tidak adekuat karena selalu
tidak dipercaya untuk mandiri, memutuskan sendiri akan bertanggung jawab
terhadap prilakunya. Sikap orang tua yang terlalu mengatur dan mengontrol,
membuat anak merasa tidak berguna.
Ø Ideal Diri tidak realistis.
Individu
yang selalu dituntut untuk berhasil akan merasa tidak punya hak untuk gagal dan
berbuat kesalahan. Ia membuat standart yang tidak dapat dicapai, seperti cita
–cita yang terlalu tinggi dan tidak realistis. Yang pada kenyataan tidak dapat
dicapai membuat individu menghukum diri sendiri dan akhirnya percaya diri akan
hilang.
Ø Gangguan fisik dan mental
Gangguan
ini dapat membuat individu dan keluarga merasa rendah diri. Sistim keluarga
yang tidak berfungsi. Orang tua yang mempunyai harga diri yang rendah tidak
mampu membangun harga diri anak dengan baik. Orang tua memberi umpan balik yang
negatif dan berulang-ulang akan merusak harga diri anak. Harga diri anak akan
terganggu jika kemampuan menyelesaikan masalah tidak adekuat. Akhirnya anak
memandang negatif terhadap pengalaman dan kemampuan di lingkungannya.
Ø Pengalaman traumatik yang
berulang,misalnya akibat aniaya fisik, emosi dan seksual.
Penganiayaan
yang dialami dapat berupa penganiayaan fisik, emosi, peperangan, bencana alam,
kecelakan atau perampokan. Individu merasa tidak mampu mengontrol lingkungan.
Respon atau strategi untuk menghadapi trauma umumnya mengingkari trauma,
mengubah arti trauma, respon yang biasa efektif terganggu. Akibatnya koping
yang biasa berkembang adalah depresi dan denial pada trauma.
4. Peran
Peran
adalah sikap dan perilaku nilai serta tujuan yang diharapkan dari seseorang
berdasarkan posisinya di masyarakat ( Keliat, 1992 ). Peran yang ditetapkan
adalah peran dimana seseorang tidak punya pilihan, sedangkan peran yang
diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu. Posisi
dibutuhkan oleh individu sebagai aktualisasi diri.
Harga diri
yang tinggi merupakan hasil dari peran yang memenuhi kebutuhan dan cocok dengan
ideal diri. Posisi di masyarakat dapat merupakan stresor terhadap peran karena
struktur sosial yang menimbulkan kesukaran, tuntutan serta posisi yang tidak
mungkin dilaksanakan ( Keliat, 1992 ). Stress peran terdiri dari konflik peran
yang tidak jelas dan peran yang tidak sesuai atau peran yang terlalu banyak.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi dalam menyesuaikan diri dengan peran yang harus di lakukan
menurut Stuart and sundeen, 1998 adalah :
- Kejelasan prilaku dengan penghargaan yang sesuai dengan peran.
- Konsisten respon orang yang berarti terhadap peran yang dilakukan .
- Kesesuain dan keseimbangan antara peran yang di emban.
- Keselarasan budaya dan harapan individu terhadap perilaku peran.
- Pemisahan situasi yang akan menciptakan ketidak sesuain perilaku peran.
Menurut Stuart and Sunden Penyesuaian individu terhadap
perannya di pengaruhi oleh beberapan faktor, yaitu :
·
Kejelasan
prilaku yang sesuai dengan perannya serta pengetahuan yang spesifik tentang
peran yang diharapkan .
·
Konsistensi
respon orang yang berarti atau dekat dengan peranannya.
- Kejelasan budaya dan harapannya terhadap prilaku perannya.
- Pemisahan situasi yang dapat menciptakan ketidak selarasan
Sepanjang kehidupan individu sering menghadapi
perubahan-perubahan peran, baik yang sifatnya menetap atau sementara yang
sifatnya dapat karena situasional. Hal ini, biasanya disebut dengan transisi
peran. Transisi peran tersebut dapat di kategorikan menjadi beberapa bagian,
seperti :
Ø Transisi Perkembangan.
Setiap
perkembangan dapat menimbulkan ancaman pada identitas. Setiap perkembangan
harus di lalui individu dengan menjelaskan tugas perkembangan yang berbeda –
beda. Hal ini dapat merupakan stresor bagi konsep diri.
Ø Transisi Situasi.
Transisi
situasi terjadi sepanjang daur kehidupan, bertambah atau berkurang orang yang
berarti melalui kelahiran atau kematian, misalnya status sendiri menjadi berdua
atau menjadi orang tua. Perubahan status menyebabkan perubahan peran yang dapat
menimbulkan ketegangan peran yaitu konflik peran, peran tidak jelas atau peran
berlebihan.
Ø Transisi sehat sakit.
Stresor
pada tubuh dapat menyebabkan gangguan gambaran diri dan berakibat diri dan
berakibat perubahan konsep diri. Perubahan tubuh dapat mempengaruhi semua
kompoen konsep diri yaitu gambaran diri, identitas diri peran dan harga diri.
Masalah konsep diri dapat di cetuskan oleh faktor psikologis, sosiologi atau
fisiologi, namun yang penting adalah persepsi seseorang terhadap ancaman.
Selain
itu dapat saja terjadi berbagai gangguan peran, penyebab atau faktor-faktor
ganguan peran tersebut dapat di akibatkan oleh :
÷
Konflik
peran interpersonal
÷
Individu
dan lingkungan tidak mempunyai harapan peran yang selaras.
÷
Contoh
peran yang tidak adekuat.
÷
Kehilangan
hubungan yang penting
÷
Perubahan
peran seksual
÷
Keragu-raguan
peran
÷
Perubahan
kemampuan fisik untuk menampilkan peran sehubungan dengan proses menua
÷
Kurangnya
kejelasan peran atau pengertian tentang peran
÷
Ketergantungan
obat
÷
Kurangnya
keterampilan social
÷
Perbedaan
budaya
÷
Harga
diri rendah
÷
Konflik
antar peran yang sekaligus di perankan
Gangguan-gangguan peran yang terjadi
tersebut dapat ditandai dengan tanda dan gejala, seperti :
•
Mengungkapkan
ketidakpuasan perannya atau kemampuan menampilkan peran
•
Mengingkari
atau menghindari peran
•
Kegagalan
trnsisi peran
•
Ketegangan
peran
•
Kemunduran
pola tanggungjawab yang biasa dalam peran
•
Proses
berkabung yang tidak berfungsi
•
Kejenuhan
pekerjaan
5. Identitas
Identitas
adalah kesadarn akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian
yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sendiri sebagai satu
kesatuan yang utuh (Stuart and Sudeen, 1991). Seseorang yang mempunyai perasaan
identitas diri yang kuat akan yang memandang dirinya berbeda dengan orang lain.
Kemandirian timbul dari perasaan berharga (aspek diri sendiri), kemampuan dan
penyesuaian diri.
Seseorang
yang mandiri dapat mengatur dan menerima dirinya. Identitas diri terus
berkembang sejak masa kanak-kanak bersamaan dengan perkembangan konsep diri.
Hal yang penting dalam identitas adalah jenis kelamin (Keliat,1992). Identitas
jenis kelamin berkembang sejak lahir secara bertahap dimulai dengan konsep
laki-laki dan wanita banyak dipengaruhi oleh pandangan dan perlakuan masyarakat
terhadap masing-masing jenis kelamin tersebut. Perasaan dan prilaku yang kuat
akan indentitas diri individu dapat ditandai dengan:
Karakteristik identitas diri dapat
dimunculkan dari prilaku dan perasaan seseorang, seperti :
§ Individu mengenal dirinya sebagai
makhluk yang terpisah dan berbeda dengan orang lain
§ Individu mengakui atau menyadari
jenis seksualnya
§ Individu mengakui dan menghargai
berbagai aspek tentang dirinya, peran, nilai dan prilaku secara harmonis
§ Individu mengaku dan menghargai diri
sendiri sesuai dengan penghargaan lingkungan sosialnya
§ Individu sadar akan hubungan masa
lalu, saat ini dan masa yang akan dating
§ Individu mempunyai tujuan yang dapat
dicapai dan di realisasikan
C. JENIS-JENIS
KONSEP DIRI
Menurut Calhoun dan
Acocella (1990), dalam perkembangannya konsep diri terbagi dua, yaitu konsep
diri positif dan konsep diri negatif.
1.
Konsep Diri Positif
Konsep diri positif
menunjukkan adanya penerimaan diri dimana individu dengan konsep diri positif
mengenal dirinya dengan baik sekali. Konsep diri yang positif bersifat stabil
dan bervariasi. Individu yang memiliki konsep diri positif dapat memahami dan
menerima sejumlah fakta yang sangat bermacam-macam tentang dirinya sendiri
sehingga evaluasi terhadap dirinya sendiri menjadi positif dan dapat menerima
dirinya apa adanya.
Individu yang memiliki
konsep diri positif akan merancang tujuan-tujuan yang sesuai dengan realitas,
yaitu tujuan yang memiliki kemungkinan besar untuk dapat dicapai, mampu
menghadapi kehidupan di depannya serta menganggap bahwa hidup adalah suatu
proses penemuan.
Adapun ciri-ciri konsep
diri positif adalah sebagai berikut:
·
yakin akan kemampuan mengatasi masalah
·
merasa setara dengan orang lain
·
menerima pujian tanpa rasa malu
·
sadar setiap keinginan dan perilaku tidak
selalu disetujui masyarakat
·
mampu memperbaiki diri
2. Konsep
diri negative
Calhoun
dan Acocella (1990) membagi konsep diri negatif menjadi dua tipe, yaitu:
a) Pandangan
individu tentang dirinya sendiri benar-benar tidak teratur, tidak memiliki
perasaan, kestabilan dan keutuhan diri. Individu tersebut bena-rbenar tidak
tahu siapa dirinya, kekuatan dan kelemahannya atau yang dihargai dalam
kehidupannya.
b) Pandangan
tentang dirinya sendiri terlalu stabil dan teratur. Hal ini bias terjadi karena
individu dididik dengan cara yang sangat keras, sehingga menciptakan citra diri
yang tidak mengizinkan adanya penyimpangan dari seperangkat hukum yang dalam
pikirannya merupakan cara hidup yang tepat.
Adapun ciri-ciri konsep
diri negative adalah sebagai berikut:
• peka
pada kritik
• responsif
sekali terhadap pujian
• Hiperkritis
• cenderung merasa tidak disenangi orang lain
• bersikap
pesimistis terhadap kompetisi
D. LANGKAH-LANGKAH
MEMPERTAHANKAN KONSEP DIRI
1.
Bersikap
obyektif dalam mengenali diri sendiri
Jangan abaikan pengalaman positif
atau pun keberhasilan sekecil apapun yang pernah dicapai. Lihatlah talenta,
bakat dan potensi diri dan carilah cara dan kesempatan untuk mengembangkannya.
Janganlah terlalu berharap bahwa Anda dapat membahagiakan semua orang atau
melakukan segala sesuatu sekaligus.
“You can’t be all things to all
people, you can’t do all things at once, you just do the best you could in
every way....”
2.
Hargailah diri sendiri
Tidak ada orang lain yang lebih menghargai diri kita selain diri sendiri.Jikalau kita tidak
bisa menghargai diri sendiri,tidak dapat melihat kebaikan yang ada pada diri sendiri,tidakmampu memandang hal baik dan positif terhadap diri,bagaimana kita bisa menghargai orang lain dan melihat hal baik yang ada dalam diri orang lain secara positif.
Jika kita tidak bisa menghargai orang lain,
bagaimana orang lain bisa menghargai diri kita ??
3.
Jangan memusuhi diri sendiri
Peperangan terbesar dan paling
melelahkan adalah peperangan yang terjadi dalam diri sendiri. Sikap menyalahkan
diri sendiri secara berlebihan merupakan pertanda bahwa ada permusuhan dan
peperangan antara harapan ideal dengan kenyataan diri sejati (real self).
Akibatnya, akan timbul kelelahan mental dan rasa frustrasi yang dalam serta
makin lemah dan negatif konsep dirinya.
4. Berpikir positif dan rasional
“We are what we think. All that we
are arises with our thoughts. With our thoughts, we make the world” (The
Buddha).
Jadi, semua itu banyak tergantung pada cara kita memandang segala sesuatu, baik itu persoalan maupun terhadap seseorang. Jadi,
kendalikan pikiran kita jika pikiran itu mulai menyesatkan jiwa dan raga.
E. FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI KONSEP DIRI
Burns (1993)
menyebutkan bahwa secara garis besar ada lima faktor yang mempengaruhi
perkembangan konsep diri, yaitu :
Hurlock
(1973) yang mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
konsep diri di antaranya adalah ;
Menurut
Lerner dan Spanier (dalam Nuryoto, 1993), perkembangan seseorang selain
ditentukan oleh kondisi dirinya, juga dikaitkan dengan kehidupan kelompok dalam
lingkungan masyarakatnya pada setiap tahap perkembangan yang dilaluinya.
Garbarino
(1992) mengemukakan bahwa pada prinsipnya dalam proses perkembangan manusia
bisa dilihat dalam perspektif ekologi. Dalam perspektif ini individu berintraksi
dengan lingkungan. Interaksi tersebut mebuat kedua elemen saling memperngaruhi
satu sama lain dan membentuk sistem dalam beberapa tingkatan, yang terdiri dari
microsystems, mesosystems, exosystems, dan macrosystems.
F. MEMBANGUN KONSEP DIRI
Sejatinya
seorang muslim ibarat pohon yang berakar kuat menghujam bumi, batangnya kokoh,
dahannya menjulang ke langit, dan buahnya banyak serta berkualitas baik.
Ketiganya saling terkait. Akar yang kuat, menopang batang yang kokoh sehingga
dahannya bisa panjang dan menjulang kemudian ketika berbuah pohonnya tetap
kokoh, tidak roboh meskipun digantungi buah yang banyak. Buahnya pun
manis-manis, berkualitas baik.
Inilah gambaran muslim yang sukses, ketika dia
menghasilkan buah yang berkualitas baik, dalam jumlah yang banyak pula. Dalam
bahasa rasulullah Muhammad SAW disebut sebagai orang yang terbaik, yaitu yang
paling bermanfaat bagi orang lain. Dalam bukunya, Steven Covey mengistilahkan
kesuksesan ini dengan pribadi efektif, pribadi yang dapat mencapai tujuan. Sementara
Anis Matta menggambarkan orang sukses sebagai orang yang berkontribusi banyak
sesuai keahliannya.
Dilihat
dari kacamata manajemen diri, akar pohon adalah konsep diri. Batang adalah
kepribadian dan perilaku, sementara buah adalah amal. Untuk menjadi muslim
sejati atau yang digambarkan sebagai pohon yang berakar kuat, berbatang kokoh,
dan berbuah banyak tadi, setidaknya ada tiga hal yang perlu kita lakukan :
§ Mengetahui model manusia muslim yang ideal
§ Mengetahui diri kita dengan baik
§ Mengadaptasikan model ideal kepada diri kita.
G. HAMBATAN DALAM
MEMBANGUN KONSEP DIRI
Potensi yang dimiliki seseorang bisa
berkembang atau tidak, itu tergantung pada pribadi yang bersangkutan dan
lingkungan dia berada. Beberapa hambatan yang sering terjadi dalam pengembangan
potensi diri adalah sebagai berikut:
a) Hambatan
yang berasal dari lingkungan; Lingkungan merupakan salah satu faktor penghambat
dalam pengembangan potensi diri. Hambatan ini antara lain disebabkan sistem
pendidikan yang dianut, lingkungan kerja yang tidak mendukung semangat
pengembangan potensi diri, dan tanggapan atau kebiasaan dalam lingkungan
kebudayaan.
b)
Hambatan yang berasal dari individu sendiri;
Penghambat yang cukup besar adalah pada diri sendiri,misalnya sikap
berprasangka, tidak memiliki tujuan yang jelas, keengganan mengenal diri
sendiri, ketidak mampuan mengatur diri, pribadi yang kerdil, kemampuan yang
tidak memadai untuk memecahkan masalah, kreativitas rendah, wibawa rendah,
kemampuan pemahaman manajerial lemah, kemampuan latih rendah dan kemampuan
membina tim yang rendah.
H. MENGUBAH DAN MENINGKATKAN KONSEP
DIRI
Beberapa teknik yang bisa digunakan untuk membantu
melakukan modifikasi konsep diri adalah :
1)
Kisah sukses
Yang
dimaksud dengan kisah sukses adalah kejadian, peristiwa, pengalaman, atau apa
saja yang anda alami dalam hidup anda yang membuat anda merasa istimewa. Kisah
sukses bersifat pribadi. Jadi anda yang menentukan apa yang menjadi kisah
sukses anda.
Kisah
sukses ini harus anda tulis di atas kertas. Tidak boleh hanya anda ingat atau
simpan dalam pikiran anda. Bila anda menuliskan kisah sukses anda, tulislah
kisah sukses terkini, lalu mundur lagi, terus mundur sampai saat anda masih
kecil, sampai kisah sukses paling lama yang bisa anda ingat.
2)
Simbol sukses
Simbol
sukses berperan sebagai reminder atau
pengingat akan keberhasilan yang pernah kita raih. Fungsinya sama dengan kisah
sukses. Namun symbol sukses ini lebih mudah kita lihat dan bayangkan. Beberapa
contoh symbol sukses adalah trofi, sertifikat, ijazah, surat penghargaan,
lencana, foto, tanda tangan dari orang yang dikagumi, rekaman video, rekaman
wawancara.
3)
Afirmasi positif
Afirmasi
bukanlah sekedar ucapan klise yang kita ucapkan kepada diri kita sendiri dan
kita ulangi terus-menerus sampai bosan. Bila afirmasi yang anda gunakan adalah
afirmasi positif, maka berdasarkan hukum mental, sesuai dengan benihyang
ditabur demikianlah buah yang dituai, anda akan mendapatkan hasil yang positif.
Jika anda menggunakan afirmasi yang negative sudah” tentu anda akan memetik
hasil yang negative.
Ada
beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk bias membuat afirmasi ositif
dengan benar, yakni:
§ Harus
positif
Jangan menggunakan kalimat, “ saya tidak bodoh”, tapi gunakanlah
kalimat,”saya cerdas dan terampil”.
§ Menggunakan
kalimat waktu sekarang
Jangan menggunakan kalimat kalimat, “ besok saya akan rajin belajar”, tapi gunakan kalimat, ”saya adalah murid yang
rajin belajar.”
§ Bersifat
pribadi
Gunakan kata “saya”. Misalnya, saya murid yang
pintar dan…..”
§ Persisten
Lakukan selama 21 hari non-stop.
§ Dengan
hasrat dan antusiasme yang besar.
Libatkan emosi anda saat mengucapkan kalimat
afirmasi anda.
4)
Visualisasi yang bersifat multi sensori
Bila anda melakukan visualisasi,
usahakan anda berada dalam kondisi alfa. Efektivitas visualisasi anda akan
meningkat dratis bila anda melakukannya dalam kondisi alfa. Hal ini disebabkan
karena kalau dalam keadaan normal atau beta, pikiran analisis anda akan tahu
bahwa gambar diri anda lihat dalam fikiran anda itu adalah bukan diri anda
sesungguhnya. Pikiran anda akan menolak upaya yang anda lakukan. Jika anda
dalam keadaan kondisi alfa, pikiran analisis sudah sangat berkurang
pengaruhnya.
Ada beberapa tehnik yang bias digunakan
untuk masuk ke kondisi alfa:
§
Meditasi
§ Teknik
pernapasan
§ Relaksasi
§ Visualisasi
§ Mendengarkan
music
5)
Goal
setting ( penepatan tujuan )
Pada
saat anda mulai bias melihat diri anda sebagai pribadi yang kompeten pada saat
itulah konsep diri anda mulai berubah. Dengan menggunakan goal setting dapat membantu kita untuk meningkatkan konsep diri.
Ada
beberapa tahap untuk melakukan goal
setting yang benar :
÷
Tentukan dan putuskan apa yang anda
inginkan/tujuan anda sejelas-jelasnya.
÷
Tuliskan diatas selembar kertas (jangan
hanya di ingat).
Goal
yang
tidak ditulis bukanlah goal, tapi
hanya angan-angan.
÷
Tetapkan tenggatnya, kapan goal itu sudah harus tercapai.
÷
Pecah/uraikan goal itu menjadi sub-goal
yang terukur dan terarah.
Goal
perlu
dibagi menjadi komponen/sub-goal yang
lebih kecil agar kita lebih mudah mengukur kemajuan yang dicapai. Selain itu,
saat kita berhasil mencapai sub-goal,
kita telah melihat diri kita sendiri
berhasil dan kita tahu kita mampu. Ini sangat membantu meningkatkann
rasa percaya diri dan harga diri.
÷
Buat daftar tindakan yang harus anda
lakukan untuk mencapai tujuan anda.
÷
Atur daftar tindakan anda menjadi suatu
perencanaan, tuliskan diatas selembar kertas.
÷
Lakukan tindakan.
÷
Lakukan sesuatu setiap hari yang membawa
anda semakin dekat dengan pencapaian tujuan anda.
÷
Tinjaulah setiap hari.
÷
Rencanakan setiap tindakan yang akan
anda lakukan (sehari sebelumnya). Perencanaan yang baik menghindari anda dari
unjuk prestasi yang buruk. Dengan perencanaan 10% anda menghemat waktu 90%.
Mengapa harus tertulis dalam satu daftar? Pada hari
pertama anda menuliskan hal-hal yang harus anda lakukan, anda langsung
meningkatkan tingkat efektifitas dan efisiensi anda sebesar 25%.
÷
Tetapkan prioritas dengan A, B, C, D,
dan E.
Adapun yang dimaksud diatas adalah sebagai berikut:
A = sangat
penting/sesuatu yang harus dilakukan kalau tidak dilakukan akan mendatangkan
akibat serius yang tidak diinginkan.
B = perlu dilakukan.
Bila tidak dilakukan akan mengakibatkan timbulnya efek negative tapi tidak
terlalu berat.
C = baik untuk di
kerjakan. Tidak ada akibat negative (telepon, ngobrol, nonton).
D = delegasikan/out-source. Bebaskan waktu anda.
E = eliminet atau abaikan saja.
REFERENSI
Adi W.
Gunawan.2003. Genius Learning Strategi.Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama
http://
id.shvoong.com/social-sciences/psychology/pengertian-konsep-diri
http://id.wikipedia.org/wiki/konsep
diri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar