Senin, 09 Desember 2013

konsep diri



KONSEP DIRI

A.    PENGERTIAN
Banyak pengertian yang diberikan oleh para ahli mengenai konsep diri. Fitts (dalam Agustiani, 2006), mengemukakan bahwa konsep diri merupakan kerangka acuan (frame of reference) dalam berinteraksi dengan lingkungan. Agustiani (2006) menjelaskan bahwa konsep diri merupakan gambaran yang dimiliki seseorang mengenai dirinya, yang dibentuk melalui pengalaman-pengalaman yang dia peroleh dari interaksi dengan lingkungan. Penjelasan tersebut sejalan dengan pendapat Stuart dan Sundeen(dalam Keliat, 1992), bahwa konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain. Hal ini temasuk persepsi individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan objek, tujuan serta keinginannya. Dengan kata lain, konsep diri didefenisikan sebagai pandangan pribadi yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri (Calhoun dan Acocella, 1990).
Berzonsky (1981), mengemukakan bahwa konsep diri adalah gambaran mengenai diri seseorang, baik persepsi terhadap diri nyatanya maupun penilaian berdasarkan harapannya yang merupakan gabungan dari aspek-aspek fisik, psikis, sosial, dan moral. Sejalan dengan defenisi tersebut Kobal dan Musek (2002) mendefenisikan konsep diri sebagai suatu kesatuan psikologis yang meliputi perasaan-perasaan, evaluasi-evaluasi, dan sikap-sikap kita yang dapat mendeskripsikan diri kita. Demikian juga Paik dan Micheal (2002) menjelaskan konsep diri sebagai sekumpulan keyakinan-keyakinan yang kita miliki mengenai diri kita sendiri dan hubungannya dengan perilaku dalam situasi-situasi tertentu.
Konsep diri juga dapat diartikan sebagai penilaian keseluruhan terhadap penampilan, perilaku, perasaan, sikap-sikap, kemampuan serta sumber daya yang dimiliki seseorang (Labenne dan Greene, 1969). Konsep diri sebagai suatu penilaian terhadap diri juga dijelaskan dalam defenisi konsep diri yang dikemukakan oleh Partosuwido, dkk (1985) yaitu bahwa konsep diri adalah cara bagaimana individu menilai diri sendiri, bagaimana penerimaannya terhadap diri sendiri sebagaimana yang dirasakan, diyakini, dan dilakukan, baik ditinjau dari segi fisik, moral, keluarga, personal, dan sosial.
Pengertian konsep diri yang digunakan dalam penelitian adalah defenisi konsep diri yang dikemukakan oleh Calhoun dan Acocella (1990), yaitu bahwa konsep diri adalah pandangan pribadi yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri.

B.     KOMPONEN ATAU BAGIAN DARI KONSEP DIRI
Konsep diri terbagi menjadi beberapa bagian. Pembagian Konsep diri tersebut di kemukakan oleh Stuart and Sundeen ( 1991 ), yang terdiri dari :
1.      Gambaran diri ( Body Image )
Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, fungsi penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan pengalaman baru setiap individu (Stuart and Sundeen , 1991). Sejak lahir individu mengeksplorasi bagian tubuhnya, menerima stimulus dari orang lain, kemudian mulai memanipulasi lingkungan dan mulai sadar dirinya terpisah dari lingkungan ( Keliat ,1992 ).
Gambaran diri ( Body Image ) berhubungan dengan kepribadian. Cara individu memandang dirinya mempunyai dampak yang penting pada aspek psikologinya. Pandangan yang realistis terhadap dirinya manarima dan mengukur bagian tubuhnya akan lebih rasa aman, sehingga terhindar dari rasa cemas dan meningkatkan harga diri (Keliat, 1992). Individu yang stabil, realistis dan konsisten terhadap gambaran dirinya akan memperlihatkan kemampuan yang mantap terhadap realisasi yang akan memacu sukses dalam kehidupan.
Banyak Faktor dapat yang mempengaruhi gambaran diri seseorang, seperti, munculnya Stresor yang dapat menggangu integrasi gambaran diri. Stresor-stresor tersebut dapat berupa :
v  Operasi.
Seperti : mastektomi, amputsi, luka operasi yang semuanya mengubah gambaran diri. Demikian pula tindakan koreksi seperti operasi plastik, protesa dan lain –lain.
v  Kegagalan fungsi tubuh.
Seperti : hemiplegi, buta, tuli dapat mengakibatkan depersonlisasi yaitu tadak mengkui atau asing dengan bagian tubuh, sering berkaitan dengan fungsi saraf.
v  Paham yang berkaitan dengan bentuk dan fungsi tubuh
Seperti : sering terjadi pada seseorang yang mengalami gangguan jiwa, seseorang tersebut mempersiapkan penampilan dan pergerakan tubuh sangat berbeda dengan kenyataan.
v  Tergantung pada mesin.
Seperti : seseorang yang sedang menjalani intensif care yang memandang imobilisasi sebagai tantangan, akibatnya sukar mendapatkan informasi umpan balik engan penggunaan lntensif care dipandang sebagai gangguan.
v  Perubahan tubuh berkaitan
Hal ini berkaitan dengan tumbuh kembang dimana seseorang akan merasakan perubahan pada dirinya seiring dengan bertambahnya usia. Tidak jarang seseorang menanggapinya dengan respon negatif dan positif. Ketidakpuasan juga dirasakan seseorang jika didapati perubahan tubuh yang tidak ideal.
v  Umpan balik interpersonal yang negative
Umpan balik ini adanya tanggapan yang tidak baik berupa celaan, makian sehingga dapat membuat seseorang menarik diri.
v  Standard sosial budaya.
Hal ini berkaitan dengan kultur sosial budaya yang berbeda-setiap pada setiap orang dan keterbatasannya serta keterbelakangan dari budaya tersebut menyebabkan pengaruh pada gambaran diri individu, seperti adanya perasaan minder.
Beberapa gangguan pada gambaran diri tersebut dapat menunjukan tanda dan gejala, seperti :
·         Syok Psikologis.
Syok Psikologis merupakan reaksi emosional terhadap dampak perubahan dan dapat terjadi pada saat pertama tindakan.syok psikologis digunakan sebagai reaksi terhadap ansietas. Informasi yang terlalu banyak dan kenyataan perubahan tubuh membuat seseorang menggunakan mekanisme pertahanan diri seperti mengingkari, menolak dan proyeksi untuk mempertahankan keseimbangan diri.
·         Menarik diri.
Seseorang menjadi sadar akan kenyataan, ingin lari dari kenyataan , tetapi karena tidak mungkin maka seseorang lari atau menghindar secara emosional. Seseorang menjadi pasif, tergantung , tidak ada motivasi dan keinginan untuk berperan dalam perawatannya.
·         Penerimaan atau pengakuan secara bertahap.
Setelah seseorang sadar akan kenyataan maka respon kehilangan atau berduka muncul. Setelah fase ini seseorang mulai melakukan reintegrasi dengan gambaran diri yang baru.
Tanda dan gejala dari gangguan gambaran diri di atas adalah proses yang adaptif, jika tampak gejala dan tanda-tanda berikut secara menetap maka respon seseorang dianggap maladaptif sehingga terjadi gangguan gambaran diri yaitu :
÷        Menolak untuk melihat dan menyentuh bagian yang berubah.
÷        Tidak dapat menerima perubahan struktur dan fungsi tubuh.
÷        Mengurangi kontak sosial sehingga terjadi menarik diri.
÷        Perasaan atau pandangan negatif terhadap tubuh.
÷        Preokupasi dengan bagian tubuh atau fungsi tubuh yang hilang.
÷        Mengungkapkan keputusasaan.
÷        Mengungkapkan ketakutan ditolak.
÷        Depersonalisasi.
÷        Menolak penjelasan tentang perubahan tubuh.

2.      Ideal Diri
Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku berdasarkan standart, aspirasi, tujuan atau penilaian personal tertentu (Stuart and Sundeen ,1991). Standart dapat berhubungan dengan tipe orang yang akan diinginkan atau sejumlah aspirasi, cita-cita, nilai- nilai yang ingin di capai . Ideal diri akan mewujudkan cita-cita, nilai-nilai yang ingin dicapai. Ideal diri akan mewujudkan cita–cita dan harapan pribadi berdasarkan norma sosial (keluarga budaya) dan kepada siapa ingin dilakukan.
Ideal diri mulai berkembang pada masa kanak–kanak yang di pengaruhi orang yang penting pada dirinya yang memberikan keuntungan dan harapan pada masa remaja ideal diri akan di bentuk melalui proses identifikasi pada orang tua, guru dan teman.
Menurut Ana Keliat ( 1998 ) ada beberapa faktor yang mempengaruhi ideal diri yaitu :
·         Kecenderungan individu menetapkan ideal pada batas kemampuannya.
·         Faktor budaya akan mempengaruhi individu menetapkan ideal diri.
·         Ambisi dan keinginan untuk melebihi dan berhasil, kebutuhan yang realistis, keinginan untuk mengklaim diri dari kegagalan, perasan cemas dan rendah diri.
·         Kebutuhan yang realistis.
·         Keinginan untuk menghindari kegagalan .
·         Perasaan cemas dan rendah diri.
Agar individu mampu berfungsi dan mendemonstrasikan kecocokan antara persepsi diri dan ideal diri. Ideal diri ini hendaknya ditetapkan tidak terlalu tinggi, tetapi masih lebih tinggi dari kemampuan agar tetap menjadi pendorong dan masih dapat dicapai (Keliat, 1992 ).

3.      Harga Diri
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh prilaku memenuhi ideal diri (Stuart and Sundeen, 1991). Frekuensi pencapaian tujuan akan menghasilkan harga diri yang rendah atau harga diri yang tinggi. Jika individu sering gagal , maka cenderung harga diri rendah. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Aspek utama adalah di cintai dan menerima penghargaan dari orang lain (Keliat, 1992). Biasanya harga diri sangat rentan terganggu pada saat remaja dan usia lanjut. Dari hasil riset ditemukan bahwa masalah kesehatan fisik mengakibatkan harga diri rendah.
Harga diri tinggi terkait dengam ansietas yang rendah, efektif dalam kelompok dan diterima oleh orang lain. Sedangkan harga diri rendah terkait dengan hubungan interpersonal yang buruk dan resiko terjadi depresi dan skizofrenia. Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri. Harga diri rendah dapat terjadi secara situasional ( trauma ) atau kronis ( negatif self evaluasi yang telah berlangsung lama ). Dan dapat di ekspresikan secara langsung atau tidak langsung (nyata atau tidak nyata).
Menurut beberapa ahli dikemukakan faktor-Fator yang mempengaruhi gangguan harga diri, seperti :
Ø  Perkembangan individu.
Faktor predisposisi dapat dimulai sejak masih bayi, seperti penolakan orang tua menyebabkan anak merasa tidak dicintai dan mengkibatkan anak gagal mencintai dirinya dan akan gagal untuk mencintai orang lain. Pada saat anak berkembang lebih besar, anak mengalami kurangnya pengakuan dan pujian dari orang tua dan orang yang dekat atau penting baginya. Ia merasa tidak adekuat karena selalu tidak dipercaya untuk mandiri, memutuskan sendiri akan bertanggung jawab terhadap prilakunya. Sikap orang tua yang terlalu mengatur dan mengontrol, membuat anak merasa tidak berguna.
Ø  Ideal Diri tidak realistis.
Individu yang selalu dituntut untuk berhasil akan merasa tidak punya hak untuk gagal dan berbuat kesalahan. Ia membuat standart yang tidak dapat dicapai, seperti cita –cita yang terlalu tinggi dan tidak realistis. Yang pada kenyataan tidak dapat dicapai membuat individu menghukum diri sendiri dan akhirnya percaya diri akan hilang.
Ø  Gangguan fisik dan mental
Gangguan ini dapat membuat individu dan keluarga merasa rendah diri. Sistim keluarga yang tidak berfungsi. Orang tua yang mempunyai harga diri yang rendah tidak mampu membangun harga diri anak dengan baik. Orang tua memberi umpan balik yang negatif dan berulang-ulang akan merusak harga diri anak. Harga diri anak akan terganggu jika kemampuan menyelesaikan masalah tidak adekuat. Akhirnya anak memandang negatif terhadap pengalaman dan kemampuan di lingkungannya.
Ø  Pengalaman traumatik yang berulang,misalnya akibat aniaya fisik, emosi dan seksual.
Penganiayaan yang dialami dapat berupa penganiayaan fisik, emosi, peperangan, bencana alam, kecelakan atau perampokan. Individu merasa tidak mampu mengontrol lingkungan. Respon atau strategi untuk menghadapi trauma umumnya mengingkari trauma, mengubah arti trauma, respon yang biasa efektif terganggu. Akibatnya koping yang biasa berkembang adalah depresi dan denial pada trauma.
4.      Peran
Peran adalah sikap dan perilaku nilai serta tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat ( Keliat, 1992 ). Peran yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang tidak punya pilihan, sedangkan peran yang diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu. Posisi dibutuhkan oleh individu sebagai aktualisasi diri.
Harga diri yang tinggi merupakan hasil dari peran yang memenuhi kebutuhan dan cocok dengan ideal diri. Posisi di masyarakat dapat merupakan stresor terhadap peran karena struktur sosial yang menimbulkan kesukaran, tuntutan serta posisi yang tidak mungkin dilaksanakan ( Keliat, 1992 ). Stress peran terdiri dari konflik peran yang tidak jelas dan peran yang tidak sesuai atau peran yang terlalu banyak.
Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam menyesuaikan diri dengan peran yang harus di lakukan menurut Stuart and sundeen, 1998 adalah :
  • Kejelasan prilaku dengan penghargaan yang sesuai dengan peran.
  • Konsisten respon orang yang berarti terhadap peran yang dilakukan .
  • Kesesuain dan keseimbangan antara peran yang di emban.
  • Keselarasan budaya dan harapan individu terhadap perilaku peran.
  • Pemisahan situasi yang akan menciptakan ketidak sesuain perilaku peran.
Menurut Stuart and Sunden Penyesuaian individu terhadap perannya di pengaruhi oleh beberapan faktor, yaitu :
·         Kejelasan prilaku yang sesuai dengan perannya serta pengetahuan yang spesifik tentang peran yang diharapkan .
·         Konsistensi respon orang yang berarti atau dekat dengan peranannya.
  • Kejelasan budaya dan harapannya terhadap prilaku perannya.
  • Pemisahan situasi yang dapat menciptakan ketidak selarasan
Sepanjang kehidupan individu sering menghadapi perubahan-perubahan peran, baik yang sifatnya menetap atau sementara yang sifatnya dapat karena situasional. Hal ini, biasanya disebut dengan transisi peran. Transisi peran tersebut dapat di kategorikan menjadi beberapa bagian, seperti :
Ø  Transisi Perkembangan.
Setiap perkembangan dapat menimbulkan ancaman pada identitas. Setiap perkembangan harus di lalui individu dengan menjelaskan tugas perkembangan yang berbeda – beda. Hal ini dapat merupakan stresor bagi konsep diri.
Ø  Transisi Situasi.
Transisi situasi terjadi sepanjang daur kehidupan, bertambah atau berkurang orang yang berarti melalui kelahiran atau kematian, misalnya status sendiri menjadi berdua atau menjadi orang tua. Perubahan status menyebabkan perubahan peran yang dapat menimbulkan ketegangan peran yaitu konflik peran, peran tidak jelas atau peran berlebihan.
Ø  Transisi sehat sakit.
Stresor pada tubuh dapat menyebabkan gangguan gambaran diri dan berakibat diri dan berakibat perubahan konsep diri. Perubahan tubuh dapat mempengaruhi semua kompoen konsep diri yaitu gambaran diri, identitas diri peran dan harga diri. Masalah konsep diri dapat di cetuskan oleh faktor psikologis, sosiologi atau fisiologi, namun yang penting adalah persepsi seseorang terhadap ancaman.
Selain itu dapat saja terjadi berbagai gangguan peran, penyebab atau faktor-faktor ganguan peran tersebut dapat di akibatkan oleh :
÷        Konflik peran interpersonal
÷        Individu dan lingkungan tidak mempunyai harapan peran yang selaras.
÷        Contoh peran yang tidak adekuat.
÷        Kehilangan hubungan yang penting
÷        Perubahan peran seksual
÷        Keragu-raguan peran
÷        Perubahan kemampuan fisik untuk menampilkan peran sehubungan dengan proses menua
÷        Kurangnya kejelasan peran atau pengertian tentang peran
÷        Ketergantungan obat
÷        Kurangnya keterampilan social
÷        Perbedaan budaya
÷        Harga diri rendah
÷        Konflik antar peran yang sekaligus di perankan

Gangguan-gangguan peran yang terjadi tersebut dapat ditandai dengan tanda dan gejala, seperti :
         Mengungkapkan ketidakpuasan perannya atau kemampuan menampilkan peran
         Mengingkari atau menghindari peran
         Kegagalan trnsisi peran
         Ketegangan peran
         Kemunduran pola tanggungjawab yang biasa dalam peran
         Proses berkabung yang tidak berfungsi
         Kejenuhan pekerjaan



5.      Identitas
Identitas adalah kesadarn akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sendiri sebagai satu kesatuan yang utuh (Stuart and Sudeen, 1991). Seseorang yang mempunyai perasaan identitas diri yang kuat akan yang memandang dirinya berbeda dengan orang lain. Kemandirian timbul dari perasaan berharga (aspek diri sendiri), kemampuan dan penyesuaian diri.
Seseorang yang mandiri dapat mengatur dan menerima dirinya. Identitas diri terus berkembang sejak masa kanak-kanak bersamaan dengan perkembangan konsep diri. Hal yang penting dalam identitas adalah jenis kelamin (Keliat,1992). Identitas jenis kelamin berkembang sejak lahir secara bertahap dimulai dengan konsep laki-laki dan wanita banyak dipengaruhi oleh pandangan dan perlakuan masyarakat terhadap masing-masing jenis kelamin tersebut. Perasaan dan prilaku yang kuat akan indentitas diri individu dapat ditandai dengan:
*      Memandang dirinya secara unik
*      Merasakan dirinya berbeda dengan orang lain
*      Merasakan otonomi : menghargai diri, percaya diri, mampu diri, menerima diri dan dapat mengontrol diri.
*      Mempunyai persepsi tentang gambaran diri, peran dan konsep diri

Karakteristik identitas diri dapat dimunculkan dari prilaku dan perasaan seseorang, seperti :
§  Individu mengenal dirinya sebagai makhluk yang terpisah dan berbeda dengan orang lain
§  Individu mengakui atau menyadari jenis seksualnya
§  Individu mengakui dan menghargai berbagai aspek tentang dirinya, peran, nilai dan prilaku secara harmonis
§  Individu mengaku dan menghargai diri sendiri sesuai dengan penghargaan lingkungan sosialnya
§  Individu sadar akan hubungan masa lalu, saat ini dan masa yang akan dating
§  Individu mempunyai tujuan yang dapat dicapai dan di realisasikan


C.    JENIS-JENIS KONSEP DIRI
Menurut Calhoun dan Acocella (1990), dalam perkembangannya konsep diri terbagi dua, yaitu konsep diri positif dan konsep diri negatif.
1.      Konsep Diri Positif
Konsep diri positif menunjukkan adanya penerimaan diri dimana individu dengan konsep diri positif mengenal dirinya dengan baik sekali. Konsep diri yang positif bersifat stabil dan bervariasi. Individu yang memiliki konsep diri positif dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang sangat bermacam-macam tentang dirinya sendiri sehingga evaluasi terhadap dirinya sendiri menjadi positif dan dapat menerima dirinya apa adanya.
Individu yang memiliki konsep diri positif akan merancang tujuan-tujuan yang sesuai dengan realitas, yaitu tujuan yang memiliki kemungkinan besar untuk dapat dicapai, mampu menghadapi kehidupan di depannya serta menganggap bahwa hidup adalah suatu proses penemuan.
Adapun ciri-ciri konsep diri positif adalah sebagai berikut:
·         yakin akan kemampuan mengatasi masalah
·         merasa setara dengan orang lain
·         menerima pujian tanpa rasa malu
·         sadar setiap keinginan dan perilaku tidak selalu disetujui masyarakat
·         mampu memperbaiki diri

2.      Konsep diri negative
Calhoun dan Acocella (1990) membagi konsep diri negatif menjadi dua tipe, yaitu:
a)      Pandangan individu tentang dirinya sendiri benar-benar tidak teratur, tidak memiliki perasaan, kestabilan dan keutuhan diri. Individu tersebut bena-rbenar tidak tahu siapa dirinya, kekuatan dan kelemahannya atau yang dihargai dalam kehidupannya.
b)      Pandangan tentang dirinya sendiri terlalu stabil dan teratur. Hal ini bias terjadi karena individu dididik dengan cara yang sangat keras, sehingga menciptakan citra diri yang tidak mengizinkan adanya penyimpangan dari seperangkat hukum yang dalam pikirannya merupakan cara hidup yang tepat.
Adapun ciri-ciri konsep diri negative adalah sebagai berikut:
       peka pada kritik
       responsif sekali terhadap pujian
       Hiperkritis
       cenderung merasa tidak disenangi orang lain
       bersikap pesimistis terhadap kompetisi 
D.    LANGKAH-LANGKAH MEMPERTAHANKAN KONSEP DIRI
1.      Bersikap obyektif dalam mengenali diri sendiri
Jangan abaikan pengalaman positif atau pun keberhasilan sekecil apapun yang pernah dicapai. Lihatlah talenta, bakat dan potensi diri dan carilah cara dan kesempatan untuk mengembangkannya. Janganlah terlalu berharap bahwa Anda dapat membahagiakan semua orang atau melakukan segala sesuatu sekaligus.
“You can’t be all things to all people, you can’t do all things at once, you just do the best you could in every way....”
2.      Hargailah diri sendiri
Tidak ada orang lain yang lebih menghargai diri kita selain diri sendiri.Jikalau kita tidak bisa menghargai diri sendiri,tidak dapat melihat kebaikan yang ada pada diri sendiri,tidakmampu memandang hal baik dan positif terhadap diri,bagaimana kita bisa menghargai orang lain dan melihat hal baik yang ada dalam diri orang lain secara positif.
Jika kita tidak bisa menghargai orang lain, bagaimana orang lain bisa menghargai diri kita ??
3.      Jangan memusuhi diri sendiri
Peperangan terbesar dan paling melelahkan adalah peperangan yang terjadi dalam diri sendiri. Sikap menyalahkan diri sendiri secara berlebihan merupakan pertanda bahwa ada permusuhan dan peperangan antara harapan ideal dengan kenyataan diri sejati (real self). Akibatnya, akan timbul kelelahan mental dan rasa frustrasi yang dalam serta makin lemah dan negatif konsep dirinya.
4. Berpikir positif dan rasional
“We are what we think. All that we are arises with our thoughts. With our thoughts, we make the world” (The Buddha).
Jadi, semua itu banyak tergantung pada cara kita memandang segala sesuatu, baik itu persoalan maupun terhadap seseorang. Jadi, kendalikan pikiran kita jika pikiran itu mulai menyesatkan jiwa dan raga.


E.     FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSEP DIRI
Burns (1993) menyebutkan bahwa secara garis besar ada lima faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri, yaitu :
*      citra fisik, merupakan evaluasi terhadap diri secara fisik,
*      bahasa, yaitu kemampuan melakukan konseptualisasi dan verbalisasi,
*      umpan balik dari lingkungan,
*      identifikasi dengan model dan peran jenis yang tepat,
*      pola asuh orang tua.
Hurlock (1973) yang mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri di antaranya adalah ;
*      fisik,
*      pakaian,
*      nama dan nama panggilan,
*      intelegensi,
*      tingkat aspirasi,
*      emosi,
*      budaya,
*      sekolah dan perguruan tinggi,
*      status sosial ekonomi, dan keluarga.
Menurut Lerner dan Spanier (dalam Nuryoto, 1993), perkembangan seseorang selain ditentukan oleh kondisi dirinya, juga dikaitkan dengan kehidupan kelompok dalam lingkungan masyarakatnya pada setiap tahap perkembangan yang dilaluinya.
Garbarino (1992) mengemukakan bahwa pada prinsipnya dalam proses perkembangan manusia bisa dilihat dalam perspektif ekologi. Dalam perspektif ini individu berintraksi dengan lingkungan. Interaksi tersebut mebuat kedua elemen saling memperngaruhi satu sama lain dan membentuk sistem dalam beberapa tingkatan, yang terdiri dari microsystems, mesosystems, exosystems, dan macrosystems.
F.     MEMBANGUN KONSEP DIRI
Sejatinya seorang muslim ibarat pohon yang berakar kuat menghujam bumi, batangnya kokoh, dahannya menjulang ke langit, dan buahnya banyak serta berkualitas baik. Ketiganya saling terkait. Akar yang kuat, menopang batang yang kokoh sehingga dahannya bisa panjang dan menjulang kemudian ketika berbuah pohonnya tetap kokoh, tidak roboh meskipun digantungi buah yang banyak. Buahnya pun manis-manis, berkualitas baik.
Inilah gambaran muslim yang sukses, ketika dia menghasilkan buah yang berkualitas baik, dalam jumlah yang banyak pula. Dalam bahasa rasulullah Muhammad SAW disebut sebagai orang yang terbaik, yaitu yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dalam bukunya, Steven Covey mengistilahkan kesuksesan ini dengan pribadi efektif, pribadi yang dapat mencapai tujuan. Sementara Anis Matta menggambarkan orang sukses sebagai orang yang berkontribusi banyak sesuai keahliannya.
Dilihat dari kacamata manajemen diri, akar pohon adalah konsep diri. Batang adalah kepribadian dan perilaku, sementara buah adalah amal. Untuk menjadi muslim sejati atau yang digambarkan sebagai pohon yang berakar kuat, berbatang kokoh, dan berbuah banyak tadi, setidaknya ada tiga hal yang perlu kita lakukan :
§   Mengetahui model manusia muslim yang ideal
§   Mengetahui diri kita dengan baik
§   Mengadaptasikan model ideal kepada diri kita.

G.    HAMBATAN DALAM MEMBANGUN KONSEP DIRI
Potensi yang dimiliki seseorang bisa berkembang atau tidak, itu tergantung pada pribadi yang bersangkutan dan lingkungan dia berada. Beberapa hambatan yang sering terjadi dalam pengembangan potensi diri adalah sebagai berikut:
a)      Hambatan yang berasal dari lingkungan; Lingkungan merupakan salah satu faktor penghambat dalam pengembangan potensi diri. Hambatan ini antara lain disebabkan sistem pendidikan yang dianut, lingkungan kerja yang tidak mendukung semangat pengembangan potensi diri, dan tanggapan atau kebiasaan dalam lingkungan kebudayaan.
b)      Hambatan yang berasal dari individu sendiri; Penghambat yang cukup besar adalah pada diri sendiri,misalnya sikap berprasangka, tidak memiliki tujuan yang jelas, keengganan mengenal diri sendiri, ketidak mampuan mengatur diri, pribadi yang kerdil, kemampuan yang tidak memadai untuk memecahkan masalah, kreativitas rendah, wibawa rendah, kemampuan pemahaman manajerial lemah, kemampuan latih rendah dan kemampuan membina tim yang rendah.

H.    MENGUBAH DAN MENINGKATKAN KONSEP DIRI
Beberapa teknik yang bisa digunakan untuk membantu melakukan modifikasi konsep diri adalah :
1)      Kisah sukses
Yang dimaksud dengan kisah sukses adalah kejadian, peristiwa, pengalaman, atau apa saja yang anda alami dalam hidup anda yang membuat anda merasa istimewa. Kisah sukses bersifat pribadi. Jadi anda yang menentukan apa yang menjadi kisah sukses anda.
Kisah sukses ini harus anda tulis di atas kertas. Tidak boleh hanya anda ingat atau simpan dalam pikiran anda. Bila anda menuliskan kisah sukses anda, tulislah kisah sukses terkini, lalu mundur lagi, terus mundur sampai saat anda masih kecil, sampai kisah sukses paling lama yang bisa anda ingat.
2)      Simbol sukses
Simbol sukses berperan sebagai reminder atau pengingat akan keberhasilan yang pernah kita raih. Fungsinya sama dengan kisah sukses. Namun symbol sukses ini lebih mudah kita lihat dan bayangkan. Beberapa contoh symbol sukses adalah trofi, sertifikat, ijazah, surat penghargaan, lencana, foto, tanda tangan dari orang yang dikagumi, rekaman video, rekaman wawancara.
3)      Afirmasi positif
Afirmasi bukanlah sekedar ucapan klise yang kita ucapkan kepada diri kita sendiri dan kita ulangi terus-menerus sampai bosan. Bila afirmasi yang anda gunakan adalah afirmasi positif, maka berdasarkan hukum mental, sesuai dengan benihyang ditabur demikianlah buah yang dituai, anda akan mendapatkan hasil yang positif. Jika anda menggunakan afirmasi yang negative sudah” tentu anda akan memetik hasil yang negative.
Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk bias membuat afirmasi ositif dengan benar, yakni:
§  Harus positif
Jangan menggunakan kalimat, “ saya tidak bodoh”, tapi gunakanlah kalimat,”saya cerdas dan terampil”.
§  Menggunakan kalimat waktu sekarang
Jangan menggunakan kalimat kalimat, “ besok saya akan rajin belajar”, tapi gunakan kalimat, ”saya adalah murid yang rajin belajar.”
§  Bersifat pribadi
Gunakan kata “saya”. Misalnya, saya murid yang pintar dan…..”
§  Persisten
Lakukan selama 21 hari non-stop.
§  Dengan hasrat dan antusiasme yang besar.
Libatkan emosi anda saat mengucapkan kalimat afirmasi anda.
4)      Visualisasi yang bersifat multi sensori
Bila anda melakukan visualisasi, usahakan anda berada dalam kondisi alfa. Efektivitas visualisasi anda akan meningkat dratis bila anda melakukannya dalam kondisi alfa. Hal ini disebabkan karena kalau dalam keadaan normal atau beta, pikiran analisis anda akan tahu bahwa gambar diri anda lihat dalam fikiran anda itu adalah bukan diri anda sesungguhnya. Pikiran anda akan menolak upaya yang anda lakukan. Jika anda dalam keadaan kondisi alfa, pikiran analisis sudah sangat berkurang pengaruhnya.
Ada beberapa tehnik yang bias digunakan untuk masuk ke kondisi alfa:
§  Meditasi
§  Teknik pernapasan
§  Relaksasi
§  Visualisasi
§  Mendengarkan music
5)      Goal setting ( penepatan tujuan )
Pada saat anda mulai bias melihat diri anda sebagai pribadi yang kompeten pada saat itulah konsep diri anda mulai berubah. Dengan menggunakan goal setting dapat membantu kita untuk meningkatkan konsep diri.
Ada beberapa tahap untuk melakukan goal setting yang benar :
÷        Tentukan dan putuskan apa yang anda inginkan/tujuan anda sejelas-jelasnya.
÷        Tuliskan diatas selembar kertas (jangan hanya di ingat).
Goal yang tidak ditulis bukanlah goal, tapi hanya angan-angan.
÷        Tetapkan tenggatnya, kapan goal itu sudah harus tercapai.
÷        Pecah/uraikan goal itu menjadi sub-goal yang terukur dan terarah.
Goal perlu dibagi menjadi komponen/sub-goal yang lebih kecil agar kita lebih mudah mengukur kemajuan yang dicapai. Selain itu, saat kita berhasil mencapai sub-goal, kita telah melihat diri kita sendiri  berhasil dan kita tahu kita mampu. Ini sangat membantu meningkatkann rasa percaya diri dan harga diri.
÷        Buat daftar tindakan yang harus anda lakukan untuk mencapai tujuan anda.
÷        Atur daftar tindakan anda menjadi suatu perencanaan, tuliskan diatas selembar kertas.
÷        Lakukan tindakan.
÷        Lakukan sesuatu setiap hari yang membawa anda semakin dekat dengan pencapaian tujuan anda.
÷        Tinjaulah setiap hari.
÷        Rencanakan setiap tindakan yang akan anda lakukan (sehari sebelumnya). Perencanaan yang baik menghindari anda dari unjuk prestasi yang buruk. Dengan perencanaan 10% anda menghemat waktu 90%.
Mengapa harus tertulis dalam satu daftar? Pada hari pertama anda menuliskan hal-hal yang harus anda lakukan, anda langsung meningkatkan tingkat efektifitas dan efisiensi anda sebesar 25%.
÷        Tetapkan prioritas dengan A, B, C, D, dan E.
Adapun yang dimaksud diatas adalah sebagai berikut:
A = sangat penting/sesuatu yang harus dilakukan kalau tidak dilakukan akan mendatangkan akibat serius yang tidak diinginkan.
B = perlu dilakukan. Bila tidak dilakukan akan mengakibatkan timbulnya efek negative tapi tidak terlalu berat.
C = baik untuk di kerjakan. Tidak ada akibat negative (telepon, ngobrol, nonton).
D = delegasikan/out-source. Bebaskan waktu anda.
E = eliminet atau abaikan saja.








REFERENSI
Adi W. Gunawan.2003. Genius Learning Strategi.Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
http:// id.shvoong.com/social-sciences/psychology/pengertian-konsep-diri 
http://id.wikipedia.org/wiki/konsep diri
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar